Mencicipi Lumpia Legendaris, Lumpia Gang Lombok No.11 Semarang


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Halo sobat Happy Vanilla!

Ngomong  ngomong tentang kuliner nih,

Berwisata ke kota Semarang, tak lengkap jika pulang tidak membawa oleh oleh kuliner khas Semarang. Salah satu kuliner khas Semarang yang diminati banyak orang yakni Lumpia. 

Lumpia adalah sejenis jajanan tradisional Tionghoa yang terdiri dari lembaran tepung gandum berisi rebung, telur, sayuran segar, daging, atau makanan laut. Terdapat dua keluarga keluarga leluhur pencipta lumpia Semarang yakni Lumpia Gang Lombok No.11, yang terletak di Jalan Pekojan, Gang Lombok No.11 Semarang, dan juga Lumpia Mbak Lien di Jalan Pemuda dan Jalan Pandanaran yang khas dengan racikan daging ayam kampung.  Banyak sekali orang orang luar yang menjual lumpia di Semarang, seperti Lumpia Express, Garden Restaurant, dan Phoa Kiem Hwa, namun saya ingin mencoba lumpia pertama dan tertua di Semarang, yakni Lumpia Gang Lombok.

(foto saya di depan kedai Lumpia Gang Lombok No.11)

Menurut sejarah, ada dua orang satu dari Fujian (Tjoa Thay Joe), dan satu dari Semarang (Mbak Wasih) bertemu. Mereka menjual makanan yang hampir sama konsep dan rasanya. Seiring berjalannya waktu, mereka menemukan cinta dan memutuskan untuk menikah. Lalu mereka memadukan makanan dari Jawa dan China itu sehingga membentuk jajanan enak yang berisi rebung dan udang yang halal. Jajanan ini dijual di pasar malam Belanda yang bernama Olympia Park. Karena masyarakat kesusuahan menyebutnya, maka dari hasil akulturasi kebudayaan tersebut, maka jadilah nama lumpia.

Terletak di sebelah Klenteng Tay Kak Sie, di Gang Lombok, tempat ini selalu ramai, tidak pernah sepi pengunjung. Lumpia ini berukuran lebih besar daripada yang biasa dijual di semarang, dengan isi yang lebih lezat dan pas, sesuai semua lidah orang Indonesia. Terdapat 2 jenis lumpia yang dijual di sini, yaitu lumpia goreng dan lumpia basah. Disajikan dengan potongan daun bawang dan cabai yang segar dan masih utuh, dengan saus lumpia dari pati singkong  yang kental dan nikmat untuk mendampingi lumpia. 

Kedai lumpia ini sudah berusia ratusan tahun lebih dan selalu menjaga tradisi kuliner dari generasi ke generasi.  Tak heran, kedai lumpia yang buka dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore ini setiap harinya selalu mendapatkan banyak pesanan dari penduduk dalam kota yang ingin duduk mencicipi atau orang luar kota yang ingin menjadikannya sebagai oleh oleh. Puncaknya saat jam makan siang, pengunjung rela mengantri demi mencicipi kelezatan lumpia yang sudah terkenal itu.

(foto saya saat akan mencicipi Lumpia)

Selain lokasi yang masih dipertahankan, pemilik juga tetap menjaga rasa lumpia dengan mengikuti resep turun temurun dari nenek moyang. Generasi yang sekarang memegang resep Lumpia Gang Lombok ini adalah Untung Usodo.  Aroma dan rasa khas bawang merah dari daun lokio penting untuk memperkaya citarasa Lumpia.

Untuk satu lumpia goreng atau satu lumpia basah dihargai Rp 15.000,00, harga yang sangat pas untuk kelezatan lumpia yang legendaris. Dari mulai dapur untuk menggoreng lumpia, tempat untuk memasak isi lumpia, kursi dan meja makan untuk pengunjung yang ingin mencicipi di tempat, tersedia dalam kedai ini. Tak heran, aroma yang keluar saat memasak dan menyajikan lumpia menjadikan pengunjung tidak sabar untuk mencicipinya. Saya dengan teman saya pun mencoba lumpia ini, yang goreng dan yang basah. Rasa gurihnya kulit lumpia dengan nikmatnya isi yang tidak berbau khas rebung itu sangat enak. 

Jadi bagaimana ? Anda tertarik mencoba lumpia legendaris ini ?

Comments