Melihat Kecenderungan Opini Publik? Ini Caranya!
(dalam kasus : ANALISIS KECENDERUNGAN OPINI PUBLIK TERHADAP BERITA “Pemerintah Beri Izin Warga di Bawah 45 Tahun Boleh Beraktivitas Lagi” DALAM MEDIA SOSIAL KOMPAS)
BAB I PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Opini merupakan tanggapan seseorang yang diekspresikan. Publik disini merupakan sekelompok orang orang yang memiliki kepentingan dengan yang pemerintah terkait, seperti rakyat, perusahaan, komunitas, pekerja, petani, dan lain lain. Opini Publik sering dikaitkan dengan hal hal berbau politik. Dalam pemerintahan, orang yang akan menjadi wakil rakyat haruslah orang yang disenangi publik, karena beragam kepentingannya harus terakomodasi seluruhnya. Opini publik sangat kuat. Harus dipelihara dan dicermati agar proses demokrasi berjalan dengan lancar. Opini publik muncul sebagai tanggapan publik atas isu atau masalah yang sedang terjadi. Hal itu dapat mempengaruhi sikap dan preferensi publik.
Masalah yang sedang terjadi baru baru ini adalah masalah terkait kebijakan baru penanganan virus corona, “Pemerintah Beri Izin Warga di Bawah 45 Tahun Boleh Beraktivitas Lagi”. Kepala BNPB Doni Monardo mengumumkan tentang pelonggaran PSBB, dimana warga di bawah 45 tahun dapat bekerja kembali, agar tidak kehilangan mata pencaharian selama pandemi. Hal ini dinilai sebagai upaya pemerintah memutus rantai PHK perusahaan. Disampaikan dalam konferensi pers pada hari Senin, 11 Mei 2020. Terdapat beragam opini yang dikemukakan, terkait pro dan kontra kebijakan.
Masalah tersebut tersebar luas di media massa. Ditengah pandemi, informasi lebih cepat menyebar melalui media sosial, diantaranya website, instagram, youtube, dan twitter. Salah satunya media yang dapat digunakan adalah Kompas. Kompas adalah sebuah portal media yang berisi berita dan artikel daring di Indonesia, dan merupakan salah satu situs berita terpopuler di Indonesia dimana merupakan yang terdepan dalam hal berita-berita baru. Kompas juga menayangkan berita terkait, dimana terdapat pula platform kolom komentar untuk publik menanggapi berita secara langsung. Dari reaksi publik yang timbul tersebut, dapat diambil kecenderungan opini publik untuk melihat gambaran nyata pendapat masyarakat terhadap suatu masalah politik.
1.2.RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah yang dapat ditarik adalah :
Bagaimana kecenderungan opini publik terhadap berita “Pemerintah Beri Izin Warga di Bawah 45 Tahun Boleh Beraktivitas Lagi” dalam media sosial Kompas ?
BAB II ISI
2.1. Berita dalam Website Kompas
Dalam website kompas, terdapat 5 berita terkait, yaitu dengan judul berita “Soal Usia Dibawah 45 Tahun Kembali Bekerja, Dinilai Terlalu Berisiko; Tekan PHK, Warga Berusia di Bawah 45 Tahun Boleh Beraktivitas Lagi; Doni Monardo: Usia di Bawah 45 Tahun Boleh Bekerja, Tapi Dengan Syarat...; Puan Minta Pemerintah Berhati-hati Longgarkan PSBB, Apalagi Izinkan Warga 45 Tahun Beraktivitas Lagi; serta Pemerintah Beri Izin Warga di Bawah 45 Tahun Boleh Beraktivitas Lagi”
Dari kelima berita tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat kebijakan baru dari pemerintah terkait penanganan virus corona. Pemerintah akan memberikan izin kepada warga yang berusia di bawah 45 tahun untuk kembali beraktivitas di tengah wabah pandemi Covid-19, dengan catatan, kelompok tersebut tidak memiliki gejala Covid-19. Hal ini bertujuan agar mereka tidak lagi kehilangan mata pencarian sejak adanya musibah pandemi. Langkah ini juga dinilai sebagai salah satu upaya pemerintah untuk memutus rantai PHK yang dilakukan sejumlah perusahaan. Namun mereka bisa kembali bekerja jika perusahaannya masuk ke dalam 11 bidang kegiatan yang diizinkan sesuai peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020. Anjuran ini dikeluarkan lantaran data menunjukkan warga berusia 45 tahun ke atas menyumbang angka kematian tertinggi penderita covid-19. Berbagai kritik datang salah satunya dari kelompok dokter yang tergabung di Ikatan Dokter Indonesia, juga datang dari Kalangan Dunia Usaha, Kadin. Tanggapan juga datang dari Ketua DPR RI Puan Maharani yang meminta pemerintah menerapkan prinsip keberhatian sebelum memutuskan untuk melonggarkan PSBB. Menurutnya, Pemerintah perlu melakukan simulasi relaksasi PSBB untuk melihat dampak yang ditimbulkannya.
Dalam berita terkait yang terdapat di website Kompas tidak ditemukan komentar.
2.2. Kecenderungan Opini Publik pada Instagram Kompas
Dari media sosial instagram resmi kompas, memiliki judul berita “Pemerintah Persilahkan Warga Berusia di Bawah 45 Tahun Beraktivitas Kembali” dengan caption “pemerintah akan memberi kesempatan bagi warga berusia di bawah 45 tahun untuk beraktivitas meski pandemi virus corona atau Co-Vid 19 masih terjadi di dalam negeri. Hal ini dilakukan agar kelompok tersebut tak kehilangan mata pencaharian. Dalam caption juga memberi link terkait berita menuju website resmi kompas.
Dilihat dari jumlah komentar, yang mencapai angka 858 terdapat komentar pro atau mendukung sebanyak 56 komentar. Sedangkan komentar kontra atau tidak mendukung sebanyak 802 komentar. Diantara komentar pro kebijakan adalah “setuju, tetap semangat, jaga masing masing saja, pemerintah lebih fokus kepada perekonomian, berdoa dan berusaha, yang sudah terdampak tidak apa apa, memutus PHK, wira usaha, menjaga kesehatan, patuhi protokol kesehatan, jaga kebersihan, alhamdulillah, ikuti saja”. Kemudian komentar kontra kebijakan diantaranya “pemerintah membingungkan, diam juga mati, membawa virus, tidak bisa bekerja lagi, sudah di PHK, mencla mencle, bagaimana dengan politik, sama saja menularkan, konspirasi, stress, semrawut, tuntasin dulu, rakyat makin kejepit, seleksi alam, menularkan yang dirumah, PSBB ga guna, mencla mencle”
Dalam komentar yang terdapat di instagram kompas tersebut, menginterpretasikan masih banyak orang yang memperdulikan kesehatan, dengan 2 sudut pandang. Untuk orang yang pro kebijakan, mereka mendukung pelonggaran PSBB ini dikarenakan mereka memahami bahwa ekonomi Indonesia harus mulai bangkit dan ditingkatkan. Strategi ini juga dinilai untuk mengurangi angka PHK di tengah pandemi. Mereka juga mengusulkan untuk masyarakat memulai berwirausaha dengan kreatif, tentunya mempertimbangkan dampak usaha pula. Sedangkan orang yang kontra terhadap kebijakan, dalam sisi kesehatan, mereka menolak dikarenakan mereka menilai, kebijakan tersebut malah menambah parah proses penyebaran. Apabila warga berusia di bawah 45 tahun selesai bekerja dan kembali ke rumah, mereka beresiko menjadi carrier dan menularkan anggota keluarga lain. Kemudian, tak sedikit pula yang memancing komentar mengenai konspirasi herd immunity, juga genosida terselubung dari pemerintah, yang kemudian dibalas oleh beberapa orang lainnya. Selain itu, banyak warga yang sudah terlanjur di PHK dan tidak bisa kembali bekerja di perusahaan mereka, perusahaan pun ada yang bangkrut dan tutup. Kelompok kontra kebijakan juga mempermasalahkan tentang kebijakan pemerintah yang berganti ganti dan dinilai tidak efektif.
2.3. Kecenderungan Opini Publik pada Youtube Kompas
Dari media sosial youtube, terdapat 2 video terkait berita yang dapat dianalisis, dengan judul “Doni Monardo: Usia di Bawah 45 Tahun Boleh Bekerja, Tapi Dengan Syarat...”. Syaratnya diantaranya adalah mereka bisa kembali bekerja jika perusahaannya masuk ke dalam 11 bidang kegiatan yang diizinkan sesuai peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020. Doni menyebut perusahaan-perusahan harus memperhitungkan dan mempertimbangkan data tingkat kematian. Meski begitu Pemerintah tetap menghimbau kepada kelompok usia 45 tahun ke bawah yang masih bekerja dan memiliki mobilitas tinggi untuk menjaga diri termasuk meningkatkan protokol kesehatan terutama ketika pulang ke rumah sehingga melindungi keluarga dari ancaman covid-19.
Jumlah komentar yang terdapat pada video di atas mencapai 93 komentar. Terdapat komentar pro kebijakan sejumlah 15 komentar. Kemudian komentar kontra kebijakan mencapai 78 komentar. Diantara komentar pro kebijakan adalah “kebijakan bagus, sabar pemerintah, jaga kebersihan saja, nyinyir saja bisanya, jangan hanya mengharap sumbangan, kebijakan ini untuk indonesia normal, ekonomi lancar, sudah dapat bekerja kembali, ekonomi tidak lumpuh, dirumah saja, mengikuti syarat dan aturan, semoga cepat hilang, sehat negeriku”. Sedangkan komentar kontra diantaranya “data kacau, manula menjadi tulang punggung keluarga, dan angka millenial kecil karena melakukan semuanya secara online, dapat menjadi carrier, genosida secara halus, tidak efektif, industri banyak yang bangkrut, peraturan hanya berembel embel covid, anggaran pemerintah minus untuk memberi makan rakyat”
Dalam opini pada youtube kompas diatas, dapat diinterpretasikan bahwa opini yang terdapat di masyarakat hampir senada dengan instagram, dimana komentar kontra sangat mendominasi. Opini kelompok kontra kebijakan memaparkan bahwa keadaan negara akan semakin sulit dikarenakan kebijakan yang dikeluarkan. Dimana ekonomi sudah terlanjur jatuh dan kesehatan akan bertambah buruk karena dapat menularkan orang lain dalam lingkup keluarga, dan sosial. Terdapat pula konspirasi investor yang dimasukkan ke Indonesia, serta meminta pemerintah fokus kepada penaggulangan virus terlebih dahulu, karena ekonomi tidak akan cepat pulih apabila keadaan kesehatan masyarakatnya belum baik. Tak sedikit pula yang membela pemerintah melalui komentar pro kebijakannya, seperti mendukung dan menjaga kesehatan, positif thinking terhadap peraturan pemerintah yang telah ditetapkan, karena bisa berdampak pada perekonomian, juga mendoakan yang baik agar Indonesia cepat pulih.
Kemudian terdapat pula video dengan judul “Soal Usia Dibawah 45 Tahun Kembali Bekerja, Dinilai Terlalu Berisiko”. Video ini melihat kritik dari berbagai pihak. Salah satunya dari kelompok dokter yang tergabung di Ikatan Dokter Indonesia, IDI. Kepala satgas covid-19 Ikatan Dokter Indonesia, menyatakan dari sejumlah kajian ilmiah yang dilakukan di sejumlah negara memperlihatkan, pasien berusia di bawah 45 tahun juga punya potensi meninggal akibat covid-19. Kritik juga datang dari Kalangan Dunia Usaha, Kadin. Terlalu berisiko karena rentan menjadi carrier, atau pembawa virus. Kadin meminta pemerintah lebih fokus, pada stabilisasi kemampuan jual beli di pasar.
Dalam video tersebut terdapat 171 komentar, dengan 41 komentar pro kebijakan, dan 130 komentar kontra kebijakan. Diantara komentar pro kebijakan adalah “untuk membuka ekonomi, jga kebersihan saja, melihat juga kelakuan orang indonesia, ini adalah peraturan gerak cepat pemerintah, tidak usah nyinyir saja netizen, selalu ada pengorbanan, sudah terlalu lama menganggur, tetap melindungi diri”. Sedangkan komentar kontra kebijakan diantaranya “data hanya dibesar besarkan saja, sama saja bohong, herd immunity, menularkan yang lain lebih cepat, tidak mendengarkan orang kecil, penyebaran virus bertambah parah, stress, imun turun, rakyat bingung, medis kewalahan, sudah terlanjur di PHK”.
Seperti video sebelumnya, komentar kontra kebijakan mendominasi kecenderungan opini pada kolom komentar, dan komentar pro kebijakan hanya sedikit. Masyarakat banyak mengeluhkan mereka sudah terlanjur di PHK perusahaan, karena perusahaan yang lebih dahulu tutup dan memilih untuk mengurangi karyawannya. Mereka juga harus mencukupi makanan dan kebutuhan sehari hari. Ditambah dengan larangan PSBB sebelumnya, mereka tidak dapat beraktivitas seperti biasa. Rakyat juga menjadi bingung dan stress dengan pembatasan juga adanya virus yang sedang menyerang. Dengan pelonggaran ini dikhawatirkan bertambah parahnya penyebaran virus dan tim medis akan kewalahan dalam menangani kasus. Sedangkan opini pro kebijakan menyetujui karena mereka sudah terlalu lama menganggur dan tidak mendapatkan pemasukan, asalkan tetap mematuhi protokol kesehatan. Pemerintah juga berusaha memperkecil dampak ekonomi berdasarkan musibah yang terjadi. Mereka juga mengingatkan perbuatan masyarakat Indonesia yang sering melanggar PSBB dan menyalahkan pemerintah atas naiknya jumlah korban virus corona.
2.4. Kecenderungan Opini Publik pada Twitter Kompas
Dalam twitternya, Kompas juga mengeluarkan tweet “Kebijakan Baru, Pemerintah Beri Izin Warga di Bawah 45 Tahun Boleh Beraktivitas Lagi” dimana juga memberi link terkait berita menuju website resmi kompas.
Dilihat dari komentar, jumlahnya mencapai 43 tanggapan. Terdapat komentar pro kebijakan sebanyak 3 orang, dan komentar kontra kebijakan sebanyak 40 orang. Diantara komentar pro kebijakan adalah “bisa sekolah kembali, mantap, dan dapat memutus rantai PHK”. Sedangkan komentar kontra kebijakan diantaranya adalah “mengarah ke herd immunity, tidak bijak, plin plan, sumber penyakit, menular ke manula, covid gelombang kedua, menularkan ke keluarga di rumah, kebijakan ganti ganti, sudah tidak dapat beraktivitas lagi”
Dalam komentar diatas, dapat diinterpretasikan bahwa sangat banyak opini kontra kebijakan yang harus diamati, seperti opini masyarakat tentang keputusan pemerintah yang tidak konsisten dan berganti ganti, sehingga masyarakat menjadi bingung. Selain itu, tak sedikit komentar tentang menularkan ke anggota keluarga yang di rumah, dan tidak memutus rantai penyebaran covid. Sedangkan komentar pro kebijakan hanya harapan kebijakan dapat memutus rantai PHK.
2.5. Attitude Scales dan Analisis
|
NO |
MEDIA |
FREKUENSI |
JUMLAH ORANG |
FREKUENSI (PERSEN) |
TOTAL (PERSEN) |
||
|
PRO |
KONTRA |
PRO |
KONTRA |
||||
|
1. |
|
56 |
802 |
858 |
6.5 % |
93.5 % |
100 % |
|
2. |
Youtube (1) |
15 |
78 |
93 |
16 % |
84 % |
100 % |
|
3. |
Youtube (2) |
41 |
130 |
171 |
24 % |
76 % |
100 % |
|
4. |
|
3 |
40 |
43 |
7 % |
93 % |
100 % |
|
NO |
MEDIA |
FREKUENSI |
JUMLAH ORANG |
FREKUENSI (PERSEN) |
TOTAL (PERSEN) |
||
|
PRO |
KONTRA |
PRO |
KONTRA |
||||
|
1. |
Keseluruhan |
115 |
1050 |
1165 |
10 % |
90 % |
100 % |
Hasil attitude scales memperlihatkan dari keseluruhan opini masyarakat yang terdapat di media sosial kompas lebih mengarah kepada opini kontra kebijakan. Hal ini dikarenakan situasi yang sedang terjadi di Indonesia menghadapi dilema, antara kesehatan atau nyawa, dengan perekonomian. Kebijakan sebelumnya dari pemerintah adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar atau yang disingkat dengan sebutan PSBB. Kebijakan tersebut bertujuan untuk mengurangi angka penyebaran co-vid. Pada awalnya, berdampak pada masyarakat, terutama perusahaan, pekerjaan, sosial, psikis, dan lain lain. Namun, mengingat juga hal tersebut untuk kebaikan bersama. Kemudian, PSBB memberi dampak lebih terhadap perekonomian masyarakat Indonesia, dimana perusahaan menjadi bangkrut atau tutup, yang mengakibatkan perusahaan banyak melakukan PHK terhadap karyawan karyawannya. Hal tersebut selanjutnya berdampak pada pekerjaan dan ketidakmampuan masyarakat mencukupi kehidupan sehari hari.
Dari opini pro kebijakan menyetujui kebijakan tersebut, asal masyarakat tetap memperhatikan protokol kesehatan, juga mempersuasikan kebijakan tersebut merupakan usaha pemerintah memutus rantai PHK. Mereka juga terlihat meluruskan tentang hal usia, dimana bukan usia yang dipermasalahkan pemerintah, namun upaya yang dilakukan untuk memperbaiki ekonomi melalui keputusan untuk bekerja kembali, meski hal itu juga dinilai beresiko. Kebijakan ini juga merupakan tindak lanjut dari masyarakat yang sudah ama menganggur atau tidak memiliki pemasukan untuk mencukupi kebutuhan sehari hari diakibatkan PSBB. Tak sedikit pula yang menyarankan untuk berwirausaha di tengah pandemi dengan strategi kreatif masing masing, serta meminta untuk tidak mempersulit pemerintah karena kebijakan pasti sudah dipikirkan dengan matang. Kemudian, mereka juga membantu mengingatkan tentang perbuatan masyarakat yang masih sering mengabaikan dan menganggap enteng PSBB dan virus corona.
Sementara opini kontra yang sangat mendominasi kolom komentar sebenarnya harus diperhatikan, diawasi, dan dikendalikan. Hal tersebut dapat mempersuasi orang lain, dan semacam memberi ajakan untuk tidak menyukai kebijakan. Namun, mereka juga memiliki alasan, karena melihat resiko orang yang bekerja dapat menjadi carrier bagi orang tua atau keluarga di rumah. Hal ini dapat menyebabkan penyebaran virus lebih cepat. Mereka juga meyakini untuk memberbaiki sistem kesehatan dan PSBB terlebih dahulu, baru dapat mengurusi perekonomian. Kemudian, banyak yang protes pula tentang keadaan dirinya yang telah di PHK, jadi tidak dapat kembali bekerja, dan perekonomiannya menjadi sulit. Kebijakan yang berganti kembali, memperbolehkan masyarakat untuk bekerja juga tak menghindarkan pendapat “plin plan, mencla mencle, dan lain sebagainya” karena masyarakat bingung untuk menata kehidupannya kembali. Selain itu, terdapat pula perbincangan tentang herd immunity, dimana pemerintah memang sengaja melakukan herd immunity, atau genosida terselubung yang mana masyarakat akan dibiarkan kebal terhadap virus dengan sendirinya, juga upaya pemerintah mengurangi lonjakan penduduk.
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Memang, 2 hal yaitu kesehatan dan perekonomian adalah hal yang sangat penting, dan perlu pengorbanan. Pada awalnya, pemerintah lebih memfokuskan kepada kesehatan terlebih dahulu, baru kemudian perekonomian dicoba dibangkitkan lagi dengan melonggarkan aspek kesehatan. Sebenarnya, opini kontra dan pro atas kebijakan sama sama memprioritaskan kesehatan masyarakatnya terlebih dahulu, baru kemudian perlahan perekonomian. Namun sudah banyak dampak yang terjadi dan sangat berpengaruh di masyarakat. Oleh karenanya, masyarakat menjadi tidak sabar dan meminta pemerintah untuk memberikan bantuan atau kebijakan yang sekiranya membantu, dengan memperhatikan aspek kesehatan pula. Di saat kebijakan pelonggaran PSBB untuk perekonomian ini muncul, dalam waktu seminggu masih banyak orang yang mengeluarkan statement tidak setujunya. Hal ini sekiranya perlu diperhatikan pemerintah dan diupayakan untuk dibentuk opini menuju ke konteks mendukung agar pemerintah dan rakyat sama sama dapat memperjuangkan kesehatan dan ekonomi bersama sama.
DAFTAR PUSTAKA
Internet
https://www.instagram.com/p/CAEY6A_JqwE/?igshid=1fed6edzetmo0
Comments
Post a Comment