Pemikiran Tubuh Perempuan Masa Kini? Feminisme Eksistensialis - Simone De Beauvoir

 

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.        Latar Belakang

Sekarang ini, selain ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang pesat, pemikiran manusia juga perlu diperhatikan. Salah satunya adalah mengenai feminisme dan gender. Gender  adalah sebuah konstruksi yang terbentuk berdasarkan sifat sifat atau peran maskulin yang dilekatkan pada laki laki, serta sifat sifat atau peran feminin yang dilekatkan pada perempuan. Hal ini juga membahas dominasi bias laki laki yang mengopresi perempuan. Sedangkan Feminisme adalah sebuah praktik politik atau gerakan politik yang membela dan memperjuangkan hak hak kaum perempuan terkait penindasan gender, ras kulit berwarna, ekonomi, dan lain - lain. Pentingnya mempelajari komunikasi gender adalah untuk memahami isu isu utama terkait penindasan wanita, yaitu patriarkisme, tingkat subordinasi wanita, kategori wanita, serta implikasi determinasi ideologi dalam bentuk teori teori feminis. 

Namun bagaimana masalah gender dan feminisme sekarang ? 

Terdapat pula contoh yang juga saya jadikan acuan yaitu postingan intagram artis Tara Basro yang sempat viral setelah hal tersebut dibagikan. Dimana dalam caption postingan, ia mengatakan bahwa orang selalu menjelek – jelekkan tubuh orang lain dan menjadikan itu sebagai kebiasaan. Namun, andaikan kita berfikir dan melihat secara positif, fokus, dan bersyukur akan tubuh, maka kita akan bangga terhadap tubuh sendiri.  Beberapa komentar laki laki dan perempuan yang berbeda.

sepatutnya wanita mulai menyadari dan sadar berfikir mengapa mereka menjadi objek seksualitas terpisah dari biologis. Contoh lain adalah movement #metoo ini berawal dari slogan yang diciptakan Tarana Burke yang mengajak perempuan bersatu melawan pelecehan seksual yang kemudian viral dan banyak wanita mulai berani berbicara tentang pelecehan seksual yang dialaminya. 

Menurut penulis, hal ini terdapat hubungannya dengan feminis eksistensialis, dimana tokoh dari feminis eksistensialis, Simone de Beauvoir mencari terus kenapa laki laki dianggap subjek dan perempuan dianggap objek. Sejatinya biologis tidak mempengaruhi, namun mitos dan opresi yang dalam sejarahnya diciptakan laki laki terhadap perempuan membuat perempuan menjadi tenggelam eksistensinya karena tidak mencoba melawan, dan terancam secara seksualitas.  Simone melihat hal ini masih sebagai suatu awal perjalanan. Disisi lain, ia kecewa karena hal seperti ini menunjukkan bahwa wanita masih menjadi objek seksual laki - laki.  Terdapat kemiripan contoh kasus dengan pemikiran Simone de Beauvoir. Dalam alirannya, yaitu feminisme eksistensialis, ia membahas tentang tubuh dan seksualitas perempuan yang sebenarnya merupakan bentuk opresi semu, serta the second sex yang membuka mata perempuan kala itu. Dan bagaimana keadaan opresi seksualitas masa kini ?

1.1.        Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah adalah :

-          Bagaimana pemikiran simone de beauvoir tentang tubuh dan seksualitas perempuan ?

-          Bagaimana pemikiran simone de beauvoir tentang jenis kelamin kedua ?

-          Bagaimana kaitan feminisme eksistensialis terhadap kehidupan perempuan masa kini ?

1.2.        Gagasan Kreatif

Dalam aliran feminisme, semua bertujuan baik dalam menggambarkan opresi perempuan, meskipun dengan cara atau penekanan yang berbeda beda. Dalam feminisme eksistensialis, ditekankan pada penolakan fakta yang ditawarkan biologi, namun konstruksi sosial yang ada menyebabkan perempuan menjadi objek, dan laki laki menjadi subjek. Hal ini menempatkan pada perempuan harus bertanya tentang persetujuan pada laki laki. Di bahas pula dalam eksistensialis tentang the second sex atau jenis kelamin kedua yang merupakan dasar untuk mempelajari opresi perempuan yang terlihat semu dan perlu ditekankan.

Adapun gagasan penulis untuk artikel ini untuk disampaikan bahwa sebagai seorang perempuan, hendaknya kritis dan sadar akan hal kemarginalan gender. Dan dalam artikel ini pula membahas narasi tentang perjalanan mengapa perempuan dapat menjadi jenis kelamin yang di nomor duakan setelah laki laki.  

1.3.        Manfaat Artikel

Adapun manfaat dari artikel ilmiah ini adalah untuk mengedukasi pembaca tentang pemikiran feminisme eksistensialis, pemikiran simone de beauvoir, dengan melihat realita yang ada, diharapkan pembaca dapat pula berkaca dan mengambil sikap kritis dan tidak bungkam terkait ketidaksetaraan gender, meskipun konstruksi sosial yang ada di Indonesia masih ternilai menganut paham patriarki.

1.4.        Tujuan Artikel

Tujuan dari artikel ilmiah ini adalah :

-          Dapat menjelaskan pemikiran simone de beauvoir tentang tubuh dan seksualitas perempuan

-          Dapat menjelaskan pemikiran simone de beauvoir tentang jenis kelamin kedua

-          Kritis menganalisis contoh kaitan feminisme eksistensialis terhadap kehidupan perempuan masa kini

1.5.        Metode Penulisan Artikel

Penulisan artikel ilmiah menggunakan metode studi pustaka yang menggunakan jurnal jurnal yang memuat tulisan tentang pemikiran simone de beauvoir, pemikiran feminisme eksistensialis, pemikiran tentang sejarah tubuh, penampilan perempuan, serta the second sex (jenis kelamin kedua).

BAB 2 TELAAH PUSTAKA

2.1. Kuatnya Literatur dalam Feminisme Eksistensialis

Beauvoir selalu mendefinisikan dirinya sebagai penulis daripada sebagai seorang filsuf. Alasan lain mengapa teks ini tetap diabaikan adalah ketidakpura-puraannya. Suara Beauvoir jelas dan sederhana. Saya akan menempatkan esai Beauvoir dalam konteks historisnya dan membawa keluar implikasi teoretis utama dari argumennya. mempelajari apa yang bisa dilakukan sastra Beauvoir sebagai yang paling jauh jangkauannya.  (Toril, 2009, hal. 189)

Teori sastra Beauvoir menempatkannya dalam tradisi modernisme Eropa yang luas dan bahwa siapa pun yang tertarik termasuk wanita dan anggota minoritas dalam kanon sastra masih harus banyak belajar darinya. Cara melihat dunia Beauvoir merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia makhluk, untuk makhluk manusia, dengan tujuan menyingkap dunia bagi mereka, dan penyingkapan ini adalah suatu tindakan. Pertama, Beauvoir menganggap bahasa sebagai bentuk tindakan.  Fenomenologi Jerman adalah sumber penting inspirasi untuk eksistensialisme. Beauvoir mengungkapkan bahwa pemahamannya tentang sastra didasarkan pada keasyikan mendalam tentang skeptisisme. (Toril, 2009, hal. 191)

Persepsi indera selalu menjadi isu utama untuk skeptisisme sehubungan dengan pikiran lain. Seorang penulis mampu membuat nyata dan memaksakan kebenaran: kebenaran hubungannya dengan dunia, kebenaran dunianya . (Toril, 2009, hal. 193)

2.2. Tubuh, Seksualitas,  dan Penampilan

Di sini kita menemukan persamaan keanggunan yang tampaknya langsung dengan perbudakan dalam deskripsi haute-borjuis, "wanita mode" yang "telah memilih untuk menjadikan dirinya sesuatu", untuk memamerkan sosialnya, status dan untuk menyenangkan suaminya yang makmur. Hal ini memberi amunisi gelombang kedua yang tak ternilai harganya. (Pamela, 2012, hal. 197)

Mungkin fakta sederhana ini membantu menyulut kecurigaan Beauvoir akan fashion tinggi. Koleksi yang banyak ditiru ini, yang pengaruhnya bertahan selama hampir satu dekade, memenjarakan wanita dalam korset berpinggang berpinggang dan rok panjang yang menggugah. (Pamela, 2012, hal. 198)

Semua foto yang masih ada menunjukkan kepada kita seorang wanita yang sepanjang hidupnya berpakaian dengan hati-hati dan penuh pemikiran, yang menciptakan gaya chic dan sederhana bagi dirinya, mengepang dan menata rambutnya dengan sangat hati-hati, mengenakan perhiasan yang kuat, perhiasan yang terlihat jelas, dan tidak pernah tanpa warna merah cerah lipstik. Dia memilih untuk fokus pada "wanita mode" justru karena hidupnya yang patut ditiru tidak hanya membatasi tetapi juga menggoda. Tangan fesyen kelas atas yang dia kritik sebagai simbol aspirasi borjuis masih ada bersama kita, demikian pula tubuh wanita sebagai tempat pajangan. Demikian juga fakta bahwa "wanita ... bahkan dituntut oleh masyarakat untuk menjadikan dirinya objek erotis". (Pamela, 2012, hal. 200)

2.3. The Second Sex

Buku The Second Sex bersifat ensiklopedis: delapan ratus halaman tentang biologi, psikologi, antropologi, etnologi, ilmu sosial, sejarah, cerita rakyat, sastra, sistem ekonomi, gerakan buruh , agama, hukum dan, yang paling penting, mitos tentang wanita dan pembebasan mereka. Kondisi perempuan pada umumnya, tentang perempuan sebagai Lainnya - jenis kelamin lain, jenis kelamin kedua. Dunia ini adalah dunia maskulin, masa kanak-kanak saya dipelihara dengan mitos yang diciptakan oleh laki-laki ); dia melanjutkan dengan berkata ; Saya tidak akan bereaksi sama sekali dengan cara yang sama jika saya menjadi seorang anak laki-laki). Dalam The Second Sex, Beauvoir memusatkan perhatian pada wanita di semua tahap. (Constance, Sheila, 2010, hal. 438)

Beauvoir mengatakan bahwa "(Saya tidak pernah memiliki perasaan rendah diri, tidak ada yang pernah berkata kepada saya, 'Kamu berpikir seperti ini karena kamu seorang wanita.' Kewanitaanku tidak pernah mengganggu saya sama sekali)”. (Constance, Sheila, 2010, hal. 448)

Hari ini pesannya masih berlaku: monisme seksual atau monisme ekonomi semuanya berfungsi untuk menyandera wanita terhadap ide-ide yang membuat wanita tunduk pada pria. Beauvoir berkata, "Dunia ini selalu menjadi milik laki-laki". "Sejarah" yang mendefinisikan bagaimana dan mengapa hal ini terjadi selama berabad-abad dalam upaya untuk menentukan bagaimana hak istimewa dan izin telah diberikan kepada pria dan bukan wanita. Yang terpenting, ia menunjukkan bagaimana fungsi biologis wanita - kesuburan dan kesuburannya - telah menciptakan ketidakseimbangan siapa yang memproduksi dan siapa yang bereproduksi di masyarakat. Laki-laki memantapkan dirinya sebagai tuan karena ia "mempertaruhkan nyawanya" dan "membunuh" sementara perempuan "memutuskan untuk memberi kehidupan". (Constance, Sheila, 2010, hal. 441)

Selain itu, dalam tata bahasa Prancis adalah diktum: "le masculin emporte sur le féminin" (maskulin lebih diutamakan daripada feminin). "Laki-laki adalah manusia jenis kelamin; perempuan adalah individu yang lengkap, dan setara dengan laki-laki, hanya jika dia juga adalah manusia jenis kelamin". Wanita ditentukan oleh masyarakat seperti yang baru saja dijelaskan. (Constance, Sheila, 2010, hal. 443)

Salah satu contoh adalah Medicare Amerika yang dibahas tentang posisi marjinal wanita tua dimana menjalani kesenjangan upah gender. Wanita yang lebih tua mungkin merasa ini jenis diskriminasi, tetapi mereka sering kurang suara politik yang kuat di komunitas mereka. (Robert, Judith, 2017, hal. 24)

Risiko yang lebih besar untuk kemiskinan disebabkan oleh lebih dari satu faktor, termasuk pendapatan seumur hidup yang lebih rendah, penghasilan, kesehatan, dan tantangan sosial. Mereka akan melakukannya di asuransi swasta atau lingkungan pendukung di mana terdapat kompetisi yang  tanpa kehadiran peraturan, mungkin mengarah ke perlombaan ke bawah. (Robert, Judith, 2017, hal. 26)

BAB 3 ANALISIS

3.1. Memahami Pemikiran Feminisme Eksistensialis

Simone de Beauvoir yang mengemukakan bahwa laki laki menamai laki laki Sang Diri, sedangkan perempuan menamai Sang Liyan yang dicari terus alasan yang lebih mendalam oleh Beauvoir. Perempuan dilihat sebagai ancaman bagi laki laki, sehingga laki laki harus mensubordinasi perempuan agar bisa bebas. Beauvoir memiliki ilmu sastra yang dapat membuat pembaca merasakan kenyataan dan kebenaran tentang dunia (penyingkapan dunia). Beauvoir membahas takdir dan sejarah perempuan dimana menelaah perempuan menjadi tidak berdaya terpisah dari laki laki, tetapi juga inferior terhadap laki laki. Disini, beauvoir memiliki kecurigaan akan fashion tinggi yang menjadikan perempuan masuk ke dalam korset berpinggang dan rok panjang yang menggugah. Hal itu dinilai terbatasi dan menggoda. Tubuh perempuan terkesan dijadikan sebagai pajangan dan objek erotis. Biologi menawarkan kepada masyarakat fakta yang kemudian diinterpretasi masyarakat, seperti peran reproduksi yang sebenarnya tergantung kita bagaimana memaknainya. Yang akhirnya konstruksi sosial masyarakat menyebabkan perempuan terlibat menjadi jenis kelamin kedua. Dalam sejarahnya, hal ini telah terjadi sejak lama tentang upaya laki laki yang diberikan hak “istimewa” dengan memantapkan dirinya sebagai tuan, pemimpin dikarenakan ia membahayakan nyawanya (berperang), sedangkan perempuan memberi kehidupan (di rumah). Jadi tidak karena biologi. Laki laki juga dapat menguasai perempuan dengan menciptakan mitos seperti irasionalitas dan kompleksitas perempuan. Pada akhirnya, beauvoir menyimpulkan bahwa kesemua peran yang ditujukan kepada perempuan itu merupakan umpan untuk mendapatkan persetujuan dari dunia maskulin dalam masyarakat produktif. Feminisme eksistensialis juga memiliki kritik. Elhstain dengan feminisme komunitarian, memiliki 3 kritik yaitu pertama, buku ini tidak dapat diakses oleh mayoritas perempuan. Kedua, ia menolak pendapat beauvoir tentang tubuh perempuan. Ketiga, ia dianggap merayakan karakter laki laki yang aktif, dominan, dan transenden, dimana beauvoir mengeluhkan tentang karakter perempuan yang pasif dan submisif. Llyod dengan filosofis dimana kategori filosofis Beauvoir tidak sesuai dengan kebutuhan fundamental feminis.

3.2. Kaitan Pemikiran dengan Masalah

Feminisme eksistensialis berawal dari keadaan wanita di Prancis dimana setelah perang, dimana wanita diperintahkan untuk dirumah dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mengasuh anak, dan jika mereka bekerja, akan mendapatkan kerja paruh waktu atau dengan gaji yang sedikit, yang menyebabkan posisi perempuan menjadi lemah. Oleh karena itu, perempuan menjadi tenggelam eksistensinya karena tidak mencoba melawan, dan terancam secara seksualitas.

Dari kasus di atas, terlihat penilaian laki laki terhadap tubuh perempuan masih dijadikan sebagai objek seksualitasnya, seakan perempuan dihukum karena seksualitasnya, begitupun karena ketidakcantikannya menunjukkan ketidaksetaraan serta tindak abusif dari laki laki. Laki laki masih secara gamblang bebas mengatakan hal tersebut, namun belum ada perlawanan dari pihak perempuan. Hal ini dikarenakan seksualitas dan tubuh perempuan masih dinilai sebagai salah perempuan. Akhirnya, wanita menjadi cantik bukan karena ingin menyenangkan dirinya sendiri, namun ingin terlihat mempesona di mata laki laki.

Wanita yang menjadi objek dikarenakan the second sex, yang terjadi karena konstruksi sosial yang mendarah daging. Perempuan diam akan hal ini dan menjadikannya objek seksualitas laki laki (disamping biologis). Padahal sebenarnya fakta yang ditawarkan biologi (yang dibahas dalam feminisme eksistensialis) tergantung cara kita menginterpretasi fakta itu. Perempuan akhirnya dihadapkan pada jika ia mengejek citra dirinya, atau ia tidak melakukan sesuatu atas itu, maka situasinya akan bahaya, dimana laki laki akan memegang kendali atas dirinya. Dan sebenarnya, kesemua peran yang ditujukan kepada perempuan itu merupakan umpan untuk mendapatkan persetujuan dari dunia maskulin dalam masyarakat produktif.

BAB 4 KESIMPULAN

Feminisme eksistensialis menyangkal perbedaan gender berasal dari biologi, menjelaskan sejarahnya mengapa perempuan menjadi  jenis kelamin kedua, perempuan kurang memiliki kekuatan dan tidak memiliki kebebasan, laki laki melihat perempuan sebagai ancaman dan harus disubordinasi (seperti menciptakan mitos perempuan), membahas ketidakberdayaan perempuan dari laki laki, peran perempuan hanya untuk mendapatkan persetujuan dunia maskulin. Memang dalam feminis eksistensialis membahas tentang perempuan menjadi objek seksual laki laki. Namun dalam sejarahnya, hal ini dikarenakan konstruksi sosial yang mengakibatkan perempuan harus bertanya terlebih dahulu pada laki laki hampir segala hal, karena laki laki bekerja di sektor publik, dimana akan mendapatkan uang, serta perempuan bekerja di sektor domestik, dimana tidak mendapatkan uang dan hanya bergantung pada laki laki. Mereka merasa baik baik saja. Perempuan menjadi penurut dan bungkam akan hal ini. Pada akhirnya, ketika perempuan bungkam, laki laki akan lebih mengopresi perempuan dikarenakan kekuatan yang dimilikinya (termasuk laki laki sebagai pemimpin, pencari upah, dan sosok yang harus dihormati). Perempuan menjadi miskin karena konstruksi sosial yang ada. Hal itu juga berlaku pada kehidupan sosial perempuan masa kini. Oleh karena itu, perempuan harus berjuang untuk kebebasan, untuk kebebasan berekspresi, dan melawan penindasan apapun terlebih pada penindasan perempuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Pamela, C. G. (2012). “To care for her beauty, to dress up, is a kind of work” : Simone de Beauvoir fashion, and feminism. Women’s Studies Quarterly, 41, 197 201. Diakses dari https://www.jstor.org/stable/23611781

Toril, M. (2009). What can literature do? Simone de Beauvoir as a Literary Theorist. PMLA, 124, 189-198. Diakses dari https://www.jstor.org/stable/25614258

Constance, B., Sheila, M. C. (2010). Translating “the second sex”. Tulsa Studies in Women’s Literature, 29, 437-445. Diakses dari https://www.jstor.org/stable/41337288

Robert, B. H., Judith, G. G. (2017). The second sex. Generations: Journal of the American Society on Aging, 41, 20-28. Diakses dari https://www.jstor.org/stable/10.2307/26556313

Thomas, R. F. (2012). Existentialism. The Journal of Speculative Philosophy, 26, 247-267. Diakses dari https://www.jstor.org/stable/10.5325/jspecphil.26.2.0247

 

Comments