Proses Atribusi Masyarakat Indonesia dalam Perilaku Hidup Sehat (di Era New Normal)
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia saat ini sedang dirundung pandemi virus corona. Banyak sekali sektor yang terdampak pandemi yaitu sektor kesehatan, ekonomi, pemerintahan, sosial masyarakat, transportasi, dan lain - lain. Beberapa kebijakan pun diambil oleh pemerintah seperti contoh Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan New Normal. Kebijakan yang terbaru, dengan istilah New Normal merupakan tatanan baru yang diterapkan masyarakat untuk menjaga produktivitas untuk memulihkan sektor ekonomi yang sempat turun, dengan tidak mengesampingkan aspek kesehatan, dimana tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam masa pandemi. Protokol kesehatan juga menjadi prioritas.
Perilaku hidup bersih dan sehat dalam masa pandemi dimulai dengan mencari dan mendapatkan informasi tentang peraturan, peristiwa yang sedang terjadi, bahaya, cara pencegahan, dan manfaat mencegah virus, protokol kesehatan, untuk akhirya mempengaruhi sikap, perasaan, dan perilaku seseorang. Dalam hal ini, dapat melihat faktor internal dan faktor eksternal seseorang yang berperan dalam kognisi, sikap, serta penerapan yang diambil dan dilaksanakan dalam menjalankan kehidupannya. Diantara faktor internal yang dimaksud adalah persepsi, pembelajaran, memori, motivasi, identitas diri, gender, kepribadian gaya hidup, dan nilai. Kemudian, faktor eksternal diantaranya kelompok rujukan, media sosial, status ekonomi (pendapatan), status sosial (kelas sosial), dan budaya.
Dengan berjalannya New Normal, masyarakat dapat menerapkan tatanan baru tersebut dengan cara berdampingan dengan virus corona. Hal yang diharapkan adalah angka kasus virus corona berangsur angsur menurun dan ekonomi Indonesia kembali meningkat. Namun, dilansir dari beberapa sumber, lonjakan kasus corona sangat tinggi karena warga menjadi abai terhadap protokol kesehatan setelah dikeluarkannya kebijakan new normal. Idealnya, pelaksanaan skenario new normal apabila dilakukan secara benar, dimana dalam melaksanakan kegiatan ekonomi (produksi, konsumsi, dan distribusi) dan kegiatan lain tetap menjaga jarak, melakukan pembersihan diri, mengenakan masker, keluar jika perlu, dan lain lain, maka angka kasus akan menurun. Masyarakat terlalu terlena dengan istilah sehingga mengabaikan dan menganggap remeh virus.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat ditarik beberapa perumusan masalah, yakni :
- Bagaimana faktor internal menjelaskan kasus ?
- Bagaimana faktor eksternal menjelaskan kasus ?
- Apa teori yang relevan dalam menjelaskan kasus ?
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1. Data Sekunder
FAKTOR INTERNAL
1. Persepsi
Persepsi adalah proses dimana orang memilih, mengatur, dan menafsirkan sensasi ini. Studi tentang persepsi, kemudian, berfokus pada apa yang kita tambahkan ke sensasi mentah ini untuk memberi mereka berarti. (Solomon, 2017, hal. 98)
Persepsi memiliki beberapa tahapan, yaitu :
Tahap 1: paparan
Eksposur terjadi ketika stimulus datang dalam kisaran reseptor sensorik seseorang. Konsumen berkonsentrasi pada beberapa rangsangan, tidak menyadari yang lain, dan bahkan keluar cara mereka mengabaikan beberapa pesan. Kami melihat rangsangan yang datang dalam jangkauan bahkan untuk waktu singkat jika kita memilihnya. Namun, mendapatkan pesan diperhatikan dalam waktu yang singkat (atau bahkan dalam waktu yang lebih lama) tidak berarti prestasi.
Tahap 2: Perhatian
Perhatian mengacu pada sejauh mana aktivitas pemrosesan dikhususkan untuk suatu rangsangan. Alokasi ini dapat bervariasi tergantung pada kedua karakteristik stimulus (yaitu, ceramah itu sendiri) dan penerima (yaitu, kondisi mental Anda saat itu).
Tahap 3: Interpretasi
Interpretasi mengacu pada makna yang kita berikan pada rangsangan sensorik. Sama seperti orang berbeda dalam hal rangsangan yang mereka rasakan, makna yang kita berikan pada rangsangan ini juga bervariasi. Kebanyakan makna-makna ini bergantung pada sosialisasi kita dalam suatu masyarakat persepsi sensorik adalah spesifik secara budaya. (Solomon, 2017, hal. 108)
Desain suatu produk sering kali merupakan pendorong utama sukses atau gagal. Produk dan pesan komersial sering menarik bagi panca indra seseorang, tetapi karena banyaknya pesan-pesan ini kami tidak memperhatikan sebagian besar dari mereka. Stimulus pemasaran memiliki kualitas sensorik yang penting. Kita mengandalkan warna, bau, suara, selera, dan bahkan "rasa" produk ketika kita mengevaluasinya. Tidak semua sensasi berhasil membuat jalan mereka melalui proses perseptual. Banyak rangsangan bersaing untuk mendapatkan perhatian kita, dan kita tidak perhatikan atau tafsirkan secara akurat mayoritas dari mereka. (Solomon, 2017, hal. 124)
2. Pembelajaran
Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen yang disebabkan oleh pengalaman. Pelajar tidak perlu memiliki pengalaman secara langsung, namun kita juga bisa belajar ketika kita mengamati peristiwa yang memengaruhi orang lain. Kita belajar bahkan ketika kita tidak mencoba Kita mengenali banyak nama merek dan bersenandung banyak jingle produk, misalnya, bahkan untuk produk kami tidak menggunakan secara pribadi. Kami menyebutnya akuisisi pengetahuan biasa dan tidak disengaja ini pembelajaran insidental. (Solomon, 2017, hal. 130-131)
Teori belajar perilaku
Teori belajar perilaku mengasumsikan bahwa pembelajaran terjadi sebagai hasil dari respons terhadap peristiwa eksternal. Sebaliknya, mereka mendekati pikiran sebagai "kotak hitam" dan menekankan aspek perilaku. (Solomon, 2017, hal. 131)
Teori belajar kognitif
Tidak seperti teori perilaku belajar, teori belajar kognitif mendekati pentingnya proses mental internal. Perspektif ini memandang orang sebagai pemecah masalah yang secara aktif menggunakan informasi dari dunia di sekitar mereka untuk menguasai lingkungan mereka. Pendukung pandangan ini juga menekankan peran kreativitas dan wawasan selama pembelajaran proses. (Solomon, 2017, hal. 142)
3. Memori
Memori adalah proses memperoleh informasi dan menyimpannya waktu sehingga akan tersedia ketika kita membutuhkannya. Pendekatan kontemporer untuk studi memori menggunakan pendekatan pemrosesan informasi. Proses memori:
1 Pada tahap penyandian, informasi masuk dengan cara sistem akan mengenali.
2 Pada tahap penyimpanan, kami mengintegrasikan pengetahuan ini dengan apa yang sudah ada dalam memori dan "gudang" itu sampai dibutuhkan.
3 Selama pengambilan, kami mengakses informasi yang diinginkan. (Solomon, 2017, hal. 150)
Tipe memori
Memori Sensorik
Memori sensorik menyimpan informasi yang kita terima dari indera kita. Penyimpanan ini bersifat sementara, paling lama hanya beberapa detik. Meski sensasi ini hanya bertahan beberapa detik, itu sudah cukup untuk membuatnya mempertimbangkan apakah ia harus menyelidikinya lebih lanjut.
Ingatan jangka pendek
Memori jangka pendek (STM) juga menyimpan informasi untuk jangka waktu terbatas, dan memiliki kapasitas terbatas. Mirip dengan komputer, sistem ini berfungsi sebagai memori, memegang informasi yang sedang kami proses. Ingatan kita dapat menyimpan input verbal secara akustik (Dalam hal bagaimana kedengarannya) atau secara semantik (dalam hal apa artinya).
Ingatan jangka panjang
Memori jangka panjang (LTM) adalah sistem yang memungkinkan kita menyimpan informasi untuk waktu yang lama. Proses kognitif dari latihan elaboratif memungkinkan informasi untuk bergerak (Solomon, 2017, hal. 152)
4. Motivasi
Motivasi mengacu pada proses yang mengarahkan orang untuk berperilaku seperti yang mereka lakukan. Kebutuhan menciptakan ketegangan yang mendorong konsumen untuk mencoba mengurangi atau menghilangkannya. Kebutuhan ini mungkin utilitarian (mis., keinginan untuk mencapai beberapa manfaat fungsional atau praktis, seperti ketika seseorang memuat sayuran hijau untuk alasan gizi). Status akhir yang diinginkan adalah tujuan konsumen. Pemasar mencoba membuat produk dan layanan untuk memberikan manfaat yang diinginkan dan membantu konsumen untuk mengurangi ketegangan ini. (Solomon, 2017, hal. 173)
Motivasi memiliki beberapa pengaruh, Konsumen mengalami berbagai respons afektif untuk produk dan pesan pemasaran. Respons afektif dapat bersifat ringan (evaluasi), sedang (Suasana hati), atau kuat (emosi). Pemasar sering mencoba mendapatkan respons emosional positif melalui iklan atau lainnya saluran komunikasi sehingga konsumen membentuk ikatan (atau lovemark) dengan penawaran mereka. Banyak konten di media sosial mencerminkan tanggapan afektif bahwa orang posting, jadi platform ini adalah sumber informasi yang kaya bagi pemasar untuk mengukur bagaimana perasaan konsumen tentang mereka merek. Cara kita mengevaluasi dan memilih produk tergantung pada tingkat keterlibatan kami dengan produk, pesan pemasaran, atau situasi pembelian. Keterlibatan produk dapat berkisar dari rendahnya konsumen membuat keputusan pembelian berdasarkan inersia, ke tinggi di mana mereka membentuk ikatan yang kuat dengan merek favorit (kultus produk). Strategi pemasaran juga perlu mempertimbangkan konsumen tingkat keterlibatan dengan pesan tentang produk mereka dan lingkungan di mana konsumsi dari produk ini terjadi. (Solomon, 2017, hal. 194)
5. Konsep Diri
Konsep diri sangat mempengaruhi perilaku konsumen. Konsep diri konsumen adalah refleksi dari sikap mereka menuju diri mereka sendiri. Apakah sikap ini positif atau tidak negatif, mereka akan membantu memandu banyak keputusan pembelian, kita dapat menggunakan produk untuk meningkatkan harga diri atau untuk "hadiah" diri. Produk sering mendefinisikan konsep diri seseorang. Kami memilih banyak produk karena kami pikir itu mirip dengan kepribadian kita.
Perspektif diri menyiratkan bahwa kita masing-masing sebenarnya memiliki banyak diri, dan kami memerlukan satu set produk yang berbeda alat peraga untuk memainkan setiap peran. Kami melihat banyak hal selain tubuh sebagai bagian dari siapa kita. Orang menggunakan benda berharga, mobil, rumah, dan bahkan keterikatan pada tim olahraga atau monumen nasional untuk mendefinisikan diri, ketika mereka menggabungkan ini ke dalam diri yang diperluas.
Dalam konsep diri, terdapat Identitas gender adalah komponen penting dari konsumen konsep diri. Peran seks, atau konsepsi masyarakat tentang maskulinitas dan feminitas, memberikan pengaruh kuat pada harapan kita tentang merek yang harus kita konsumsi. Periklanan memainkan peran penting karena menggambarkan harapan yang diidealkan tentang identitas gender. Cara kita berpikir tentang tubuh kita (dan cara budaya memberitahu kita bahwa kita harus berpikir) adalah komponen kunci harga diri. Konsepsi seseorang tentang tubuhnya juga memberikan umpan balik untuk citra diri. Suatu budaya mengkomunikasikan cita-cita spesifik. (Solomon, 2017, hal. 232)
6. Faktor personal, gaya hidup, dan nilai
Kepribadian konsumen mempengaruhi cara dia menanggapi rangsangan pemasaran, tetapi upaya untuk menggunakan informasi dalam konteks pemasaran bertemu dengan hasil yang beragam. Konsep kepribadian mengacu pada psikologis unik seseorang dan bagaimana hal itu secara konsisten memengaruhi cara seseorang merespons lingkungannya. Merek memiliki kepribadian. Kepribadian merek adalah seperangkat sifat yang atribut orang untuk produk seolah-olah itu seseorang. Konsumen menetapkan kepribadian kualitas untuk semua jenis produk. Menempa kepribadian merek yang diinginkan seringkali merupakan kunci untuk membangun loyalitas merek.
Gaya hidup mendefinisikan pola konsumsi mencerminkan pilihan seseorang tentang cara membelanjakan waktu dan uang, dan pilihan-pilihan ini penting untuk mendefinisikan identitas konsumen. Penelitian gaya hidup berguna untuk melacak preferensi konsumsi masyarakat dan juga untuk memposisikan produk dan layanan tertentu untuk berbeda segmen. Dapat lebih berguna untuk mengidentifikasi pola konsumsi daripada mengetahui tentang pembelian individu kapan organisasi menyusun strategi pemasaran gaya hidup.
Nilai-nilai yang mendasarinya seringkali mendorong motivasi konsumen. Produk memiliki arti karena seseorang berpikir produk akan membantunya mencapai beberapa tujuan itu terkait dengan suatu nilai, seperti individualitas atau kebebasan. Sebuah set nilai-nilai inti mencirikan setiap budaya, yang dengannya sebagian besar anggotanya mematuhi. (Solomon, 2017, hal. 274)
FAKTOR EKSTERNAL
1. Kelompok
Manusia adalah makhluk sosial. Kami memiliki kelompok, cobalah untuk menyenangkan orang lain, dan lihatlah perilaku orang lain untuk mendapatkan petunjuk tentang apa yang kita harus dilakukan dalam pengaturan publik. Bahkan, keinginan kita untuk "cocok" atau untuk mengidentifikasi dengan individu atau kelompok yang diinginkan adalah motivasi utama untuk perilaku konsumsi kita. Teori identitas sosial berpendapat bahwa kita masing-masing memiliki beberapa "diri" yang berhubungan dengan kelompok. Keterkaitan ini sangat penting sehingga kita menganggap diri kita bukan hanya sebagai "Aku", tetapi juga sebagai "kita." Selain itu, kami menyukai orang lain yang kami rasa memiliki identitas yang sama, bahkan jika identitas itu dangkal dan hampir tidak ada artinya. Dalam banyak percobaan itu menggunakan paradigma kelompok minimal, peneliti menunjukkan bahwa bahkan ketika mereka sewenang-wenang menugaskan subyek ke satu kelompok atau yang lain, orang menyukai mereka yang berakhir di grup yang sama. (Solomon, 2017, hal. 415)
2. Komunikasi Word-of-Mouth
(WOM) adalah informasi produk yang ditransmisikan individu ke individu lain. Karena kita dapatkan kabar dari orang yang kita kenal, WOM cenderung lebih dapat diandalkan dan dapat dipercaya daripada pesan dari saluran pemasaran yang lebih formal. Dan, tidak seperti iklan, WOM sering datang dengan tekanan sosial untuk mematuhi rekomendasi ini. Dalam kata lain, WOM adalah komunikasi dari mulut ke mulut. (Solomon, 2017, hal. 422)
3. Opinion leadership
Semua orang tahu orang yang memiliki pengetahuan tentang produk dan sarannya yang dianggapn serius. Individu - individu ini, atau para pemimpin opini, seringkali dapat memengaruhi sikap atau perilaku orang lain. Jelas, rekomendasi beberapa orang membawa lebih banyak berat dari yang lain. Pemimpin opini adalah sumber informasi yang sangat berharga karena mereka memiliki kekuatan sosial yang telah kita bahas sebelumnya dalam bab ini:
- Mereka kompeten secara teknis, sehingga mereka memiliki kekuatan ahli.
- Mereka menyaring, mengevaluasi, dan mensintesis informasi produk dengan cara yang tidak bias, jadi mereka memiliki kekuatan pengetahuan.
- Mereka aktif secara sosial dan sangat saling berhubungan di komunitas mereka.
- Mereka cenderung memegang kantor dalam kelompok dan klub komunitas dan aktif di luar rumah. Akibatnya, para pemimpin opini sering menggunakan kekuasaan yang sah berdasarkan pada kedudukan sosial.
- Mereka cenderung mirip dengan konsumen dalam hal nilai dan keyakinan mereka, demikian juga mereka memiliki kekuatan referensi. Perhatikan bahwa meskipun para pemimpin opini ditetapkan oleh minat atau keahlian dalam suatu kategori produk, mereka lebih meyakinkan sejauh bahwa mereka homophilous daripada heterophilous.
- Pemimpin opini efektif cenderung sedikit lebih tinggi dalam hal status dan pendidikan pencapaian dari yang mereka pengaruhi, tetapi tidak setinggi untuk berada di yang berbeda kelas sosial.
- Pemimpin opini sering kali menjadi yang pertama membeli produk baru, sehingga mereka menyerap banyak dari risiko. Pengalaman ini mengurangi ketidakpastian bagi kita semua yang tidak seberani itu. (Solomon, 2017, hal. 426)
4. Media sosial
Media sosial mengubah cara kita belajar dan memilih produk. Platform media sosial secara signifikan meningkatkan akses kami pendapat orang lain tentang produk dan layanan. Komunitas virtual menyatukan mereka yang memiliki kesamaan gairah untuk produk yang termasuk pakaian, mobil, musik, bir, kandidat politik, dll. Banyak media sosial pengguna memposting konten online yang memenuhi motif untuk peningkatan diri serta keinginan untuk berbagi pendapat dan pengalaman tentang produk dan layanan. Konsumen dapat terlibat dengan merek-merek ini melalui permainan sosial. Virus teknik pemasaran meminta individu untuk menyebar secara online, WOM tentang merek. Pemimpin opini online memainkan peran penting peran dalam menyebarluaskan rekomendasi yang berpengaruh dan informasi produk. (Solomon, 2017, hal. 439)
5. Status ekonomi
Harapan kita tentang masa depan memengaruhi
pengeluaran kita saat ini, dan keputusan-keputusan individual ini menambah hingga mempengaruhi kesejahteraan ekonomi
masyarakat. Keyakinan konsumen tentang apa masa
depan adalah indikator kepercayaan konsumen. Ukuran ini mencerminkan caranya
orang yang optimis atau pesimistis adalah tentang
kesehatan ekonomi masa depan dan bagaimana mereka memprediksi mereka akan on the road. Keyakinan ini
penting karena mereka mempengaruhi caranya banyak
uang yang dipompa orang ke dalam perekonomian ketika mereka melakukan pembelian
secara bebas. (Solomon, 2017, hal. 447-448)
Menargetkan bagian atas piramida: Konsumen Berpenghasilan Tinggi
Banyak pemasar mencoba menargetkan pasar kelas atas yang makmur. Ini sering masuk akal, karena konsumen ini jelas memiliki sumber daya untuk dibelanjakan pada produk mahal yang dipesan margin keuntungan yang lebih tinggi. Namun, adalah kesalahan untuk menganggap bahwa kita harus menempatkan semua orang dengan penghasilan tinggi ke segmen pasar yang sama. Seperti yang kita catat sebelumnya, kelas sosial melibatkan lebih dari pendapatan absolut. Ini juga merupakan cara hidup, dan beberapa faktor — termasuk di mana mereka mendapatkan uang mereka, bagaimana mereka mendapatkannya, dan berapa lama mereka memilikinya — secara signifikan memengaruhi minat dan prioritas pengeluaran orang kaya.
Menargetkan bagian bawah piramida: Konsumen Berpenghasilan Rendah
Meskipun orang miskin jelas memiliki
lebih sedikit pengeluaran daripada orang kaya, mereka memiliki dasar yang sama butuhkan
seperti orang lain. Keluarga berpenghasilan rendah membeli makanan pokok,
seperti susu, jus jeruk, dan teh, pada tingkat yang sama dengan keluarga
berpenghasilan rata-rata. Rumah tangga tingkat upah minimum dibelanjakan
lebih dari rata-rata biaya perawatan kesehatan, sewa, dan makanan yang mereka
konsumsi di rumah. (Solomon,
2017, hal. 452,453)
6. Status sosial
Kami menggunakan istilah kelas sosial lebih umum untuk menggambarkan peringkat keseluruhan orang dalam masyarakat. Orang-orang yang termasuk dalam kelas sosial yang sama memiliki kedudukan sosial yang kurang lebih sama di dalam komunitas. Mereka bekerja dalam pekerjaan yang hampir serupa, dan mereka cenderung memiliki gaya hidup yang serupa berdasarkan tingkat pendapatan dan selera umum mereka. Orang-orang ini cenderung bersosialisasi satu sama lain dan berbagi banyak ide dan nilai mengenai cara hidup seharusnya dijalani.
Memang, dalam hampir setiap konteks sebagian orang berperingkat lebih tinggi daripada yang lain bahkan jika mereka hanya memiliki jumlah pengikut Twitter yang lebih besar. Pola pengaturan sosial berkembang dimana beberapa anggota mendapatkan lebih banyak sumber daya daripada yang lain berdasarkan kedudukan relatif mereka, kekuatan, atau kontrol dalam kelompok. Proses stratifikasi sosial mengacu pada ini penciptaan divisi buatan, “proses-proses itu dalam sistem sosial yang dengannya langka dan sumber daya berharga didistribusikan secara tidak merata ke posisi status yang menjadi lebih atau kurang peringkat secara permanen dalam hal pembagian sumber daya berharga yang masing-masing terima. ”. Sebagian besar kelompok pameran struktur, atau hierarki status di mana beberapa anggota lebih baik daripada yang lain. Mereka mungkin memiliki lebih banyak wewenang atau kekuasaan, atau anggota lain hanya menyukai atau menghormati mereka. Dalam suatu sistem di mana (suka atau tidak suka) kita mendefinisikan orang-orang sebagian besar berdasarkan apa yang mereka (Solomon, 2017, hal. 455-456)
Kami mengelompokkan konsumen ke dalam kelas sosial yang banyak bicara tentang posisi mereka di masyarakat. Kelas sosial konsumen mengacu pada statusnya masyarakat. Faktor-faktor termasuk pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan tentukan kelas tempat kita berada. Sebenarnya stratifikasi sosial ini menciptakan hierarki status di mana konsumen lebih suka beberapa barang daripada yang lain. Faktor-faktor seperti tempat tinggal, minat budaya, dan pandangan dunia juga menentukan kelas sosial. Ketika distribusi pendapatan berubah di seluruh dunia, semakin sulit untuk dibedakan di antara anggota kelas sosial, banyak produk yang berhasil karena mereka menarik bagi kelompok yang baru muncul yang memasarkan sebut kelas massa (orang dengan pendapatan cukup tinggi untuk membeli barang-barang mewah, setidaknya dalam skala kecil). Individu berkeinginan untuk membuat pernyataan tentang mereka kelas sosial, atau kelas yang mereka harapkan berada, mempengaruhi produk yang mereka sukai dan tidak suka. Konsumsi yang mencolok, ketika seseorang memamerkannya status dengan sengaja menggunakan sumber daya berharga, adalah salah satunya cara untuk "membeli" ke kelas sosial yang lebih tinggi. (Solomon, 2017, hal. 472)
7. Budaya
Budaya adalah kepribadian masyarakat. Budaya masyarakat meliputi nilai-nilai, etika, dan materinya objek anggotanya menghasilkan. Itu adalah akumulasi makna dan tradisi bersama di antara anggota masyarakat. Kami menggambarkan budaya dalam hal ekologi (cara orang beradaptasi dengan habitatnya), struktur sosialnya, dan habitatnya ideologi (termasuk prinsip moral dan estetika). Kami membedakan antara budaya tinggi dan budaya rendah. Mitos adalah cerita yang mengekspresikan nilai-nilai budaya, dan di zaman modern pesan pemasaran menyampaikan ini nilai-nilai kepada anggota budaya. Ritual adalah serangkaian perilaku simbolik yang terjadi dalam urutan yang tetap dan kami ulangi secara berkala. Produk, layanan, dan gagasan baru menyebar melalui populasi dari waktu ke waktu. Berbagai jenis orang lebih atau kurang cenderung untuk mengadopsi mereka selama proses difusi. Difusi inovasi mengacu pada proses di mana produk, layanan, atau ide baru menyebar melalui suatu populasi. Inovator dan pengadopsi awal cepat untuk mengadopsi yang baru produk, dan lamban lambat. Keputusan konsumen untuk mengadopsi produk baru tergantung pada pribadinya karakteristik serta karakteristik inovasi diri.
Produk yang berhasil dalam satu budaya mungkin gagal lain jika pemasar gagal memahami perbedaan di antara konsumen di setiap tempat. Karena budaya konsumen memberikan pengaruh yang begitu besar pada pilihan gaya hidupnya, pemasar harus belajar sebagai sebanyak mungkin tentang perbedaan norma budaya dan preferensi ketika mereka melakukan bisnis di lebih dari satu negara. (Solomon, 2017, hal. 552-553)
2.2. Kerangka Teori
Teori atribusi hanya berurusan dengan proses-proses dengan mana atribusi diturunkan dari input informasi (Kelley 1973, p. 126). Ini mencakup urutan kognitif dari manipulasi stimulus hingga atribusi, tetapi secara tegas, tidak memperlakukan konsekuensi dari atribusi. Namun, jika ada yang berhasil mengubah sikap atau atribusi diri seseorang, tidak masuk akal untuk berharap bahwa ini akan menyebabkan perubahan dalam sistem respons lain "(Bem 1972, hlm. 45; juga lihat Ajzen dan Fishbein 1975). Kelley (1973) bahkan lebih kuat berdiri dengan menyatakan bahwa penjelasan kausal memainkan peran penting dalam memberikan dorongan untuk bertindak dan dalam keputusan di antara tindakan alternatif (p. 127) .Oleh karena itu, perpanjangan ini (yaitu, konsekuensi perilaku) dari teori atribusi yang membuat studi tentang bagaimana orang mengaitkan sebab-akibat dengan analisis pengambilan keputusan konsumen.
Teori atribusi dapat dibagi menjadi tiga fokus: persepsi orang (Heider, Jones dan Davis, Kelley); persepsi diri (Bem, Kelley), dan objek-persepsi (Kelley). Karena Heider umumnya dianggap sebagai "bapak teori atribusi," pembahasan teori utama dimulai dengan Heider dan persepsi orang. (Richard, Linda, Jerome, 1979, hal. 123)
Persepsi personal
Sangat dipengaruhi oleh sekolah psikologi Gestalt, minat utama Heider adalah di bidang hubungan interpersonal, dengan fokus khusus pada bagaimana individu memahami dan mencoba untuk memvalidasi persepsi mereka terhadap orang lain, yaitu persepsi orang. salah satu utas utama teori atribusi adalah konsep bahwa individu tampaknya beroperasi sebagai "psikolog naif" dalam memahami perilaku dari yang lain. Dia mengusulkan agar orang melakukan ini dengan memandang orang lain sebagai "prototipe asal-usul," yaitu, bahwa tindakan mereka paling menjelaskan sebab akibat (Heider 1958). Heider kemudian fokus pada proses rasionalisasi yang terlibat dalam membedakan antara tingkat tanggung jawab pribadi untuk tindakan yang dipertimbangkan. Korespondensi Inferensi Jones dan Davis melanjutkan pekerjaan Heider dan berusaha membuatnya lebih bisa menerima tes empiris, Jones dan Davis (1965) fokus pada efek tindakan daripada tindakan itu sendiri. Model mereka menyatakan bahwa aktor harus memiliki pengetahuan tentang efek yang akan dihasilkan dari tindakannya, serta kemampuan dan niat untuk melakukan tindakan. Fokus Jones dan Davis terutama persepsi orang, meskipun persepsi orang dapat mengintervensi persepsi objek. (Richard, Linda, Jerome, 1979, hal. 124-125)
Persepsi Diri
Bem (1965; 1967; 1972) berpendapat bahwa individu juga melihat tindakan mereka sendiri atau laporan lisan untuk menilai kesimpulan tentang diri mereka sendiri. Bem percaya bahwa hanya ada sedikit perbedaan antara persepsi diri dan orang dalam jenis informasi yang tersedia, meskipun yang lain tidak setuju (mis., Fishbein dan Ajzen 1975). Fokus spesifik Bem adalah pada proses yang digunakan seseorang untuk menyimpulkan sikap "benar" nya dari laporan lisan atau tindakan serupa. Penentuan Bem apakah seorang respons memiliki sifat kebijaksanaan atau mand melibatkan uji kehadiran atau ketidakhadiran yang sederhana. Kehadiran hadiah atau ancaman yang kuat akan menyarankan sifat-sifat, yaitu kesimpulan kuat dari penyebab lingkungan. Jika tidak ada penguatan yang kuat, ini akan menyarankan kebijaksanaan sifat dan memimpin individu untuk menyimpulkan penyebab internal (mis., sikapnya yang sebenarnya) untuk perilaku. Juga tersirat dalam penilaian penguatan lingkungan yang kuat adalah bahwa kebanyakan orang akan bereaksi dengan cara yang sama dengan situasi itu. Karya Bem dalam persepsi-diri siap beradaptasi dengan paradigma kovarians Kelley. (Richard, Linda, Jerome, 1979, hal. 125-126)
Objek dan Persepsi
Kelley menggambarkan proses atribusi dalam kerangka kerja analisis varians dan membuat perbedaan antara proses atribusi untuk dua jenis informasi: informasi dari berbagai pengamatan dari waktu ke waktu dan informasi dari satu pengamatan. Dalam beberapa situasi pengamatan dari waktu ke waktu, "prinsip kovarisasi" atribusi kausal ditimbulkan. Kelley menggambarkan tiga dimensi inferensi kausal potensial: (1) objek stimulus, yang ditempatkan pada dimensi entitas; (2) pengamat dari efek, ditempatkan di sepanjang dimensi orang tersebut; dan (3) konteks, dalam hal waktu dan / atau modalitas, di mana efek terjadi.
Ada empat kriteria yang seharusnya digunakan konsumen / pengamat untuk memastikan apakah kesan mencerminkan sifat-sifat yang melekat pada entitas daripada beberapa pengaruh lingkungan. 1. Distititiveness efeknya dikaitkan dengan entitas jika secara unik terjadi ketika entitas hadir dan tidak terjadi pada saat tidak ada. 2. Konsistensi terhadap waktu ketika entitas hadir, reaksi individu harus sama, atau hampir sama. 3. Konsistensi atas modalitas reaksi harus konsisten meskipun mode interaksi dengan entitas bervariasi. 4. Tindakan konsensus atau pengaruhnya dirasakan dengan cara yang sama oleh semua pengamat. Prinsip kovarians Kelley kemudian dimodifikasi untuk mengevaluasi situasi pemrosesan informasi yang terbatas, dengan pengembangan skema sebab akibat (dibahas pada bagian berikutnya). Tetapi kontribusi utama Kelley terletak pada kekhususannya yang lebih besar dari penyebab potensial untuk tindakan dan perluasan fokus atribusi di luar pekerjaan awal area dengan persepsi orang. (Richard, Linda, Jerome, 1979, hal. 126-127)
MODEL ATRIBUSI KELLEY
Karena beberapa alasan, konsep kovarians Kelley memberikan kerangka kerja yang menjanjikan untuk sebagian besar penelitian konsumen. Pertama, meskipun persepsi orang dapat memediasi persepsi objek, sebagian besar masalah yang dihadapi konsumen melibatkan evaluasi produk, yang membutuhkan pemrosesan informasi tentang barang dan jasa, bukan tentang orang lain. Kedua, kerangka kerja Kelley mampu menjelaskan model-model lain yang telah dibahas sebelumnya.
Keadaan informasi / naif = konsistensi kekhasan dari waktu ke waktu
modalitas, konsensus.
Prinsip kovarians paling dapat diterapkan untuk memahami bagaimana konsumen belajar membuat atribusi, khususnya dalam situasi pemrosesan informasi / atribusi yang lebih luas. Konsumen dengan cepat belajar untuk mengaitkan penyebab dengan peristiwa, dan untuk menggeneralisasi seluruh situasi atribusi yang serupa. Harapan-harapan kausal yang digeneralisasikan ini dan aturan-aturan atribusi yang mengatur prosedur inferensi ditangkap dalam turunan dari model kovarians yang disebut sebagai skema sebab akibat atau konsep "konfigurasi". (Richard, Linda, Jerome, 1979, hal. 127-128)
PROSES ATRIBUSI DALAM PEMBUATAN KEPUTUSAN KONSUMEN
STIMULI – ATRIBUTION PROCESS – BELIEF INFORMATION
(Richard, Linda, Jerome, 1979, hal. 130)
Terdapat penelitian atribusi baru-baru ini telah memeriksa inferensial kausal konsumen untuk berbagai hasil-inferensi tentang perilaku konsumen sendiri, tentang kesuksesan atau kegagalan suatu produk, dan tentang dukungan komunikator terhadap suatu produk (lih. Zaltman dan Wallendorf 1983). Paradigma yang dipelajari secara umum menguji perhatian untuk pembelian atau pemilihan produk; konsumen menyimpulkan mengapa mereka membeli atau memilih suatu produk. Studi-studi ini biasanya memanipulasi kepercayaan konsumen sehingga mereka mengaitkan seleksi baik dengan menyukai produk atau kendala situasional atau insentif, seperti konsumen memilihnya untuk menyenangkan orang lain atau karena kupon dapat ditebus (misalnya, Scott dan Yalch 1980; Tybout dan Scott 1983). Para penyelidik biasanya memanipulasi persepsi konsumen tentang insentif intrinsik (keinginan konsumen untuk produk) versus insentif ekstrinsik (moneter) untuk pengesahan. Garis penelitian yang serupa mengasumsikan bahwa konsumen membuat kesimpulan sebab-akibat untuk evaluasi produk positif dan negatif orang lain (mis., Hunt, Domzal, dan Kernan 1981; Kamins dan Assael 1987). Konsumen juga memberikan informasi tentang preferensi dan penggunaan kepada pemasar, sehingga beberapa studi meneliti efek atribusi terhadap tanggapan terhadap survei surat riset pasar. Pertanyaan-pertanyaan atribusi yang sedikit berbeda ini muncul sebagian karena teori yang berbeda memandu penelitian. (Valerie, 1988, hal. 549-550)
2.3. Analisis Kasus Menggunakan Teori
Kasus yang sedang diteliti adalah kebijakan New Normal. New Normal dalam singkatnya berarti tatanan baru yang diterapkan masyarakat untuk menjaga produktivitas untuk memulihkan sektor ekonomi yang sempat turun, dengan tidak mengesampingkan aspek kesehatan, dimana tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam masa pandemi. New Normal adalah peraturan yang dikeluarkan pemerintah yang ditindaklanjuti dalam berbagai kementriannya yang kemudian mengeluarkan peraturan sesuai bidangnya untuk dilaksanakan oleh masyarakat. Setiap peraturan yang dikeluarkan pemerintah pasti mengundang banyak opini, sikap, tindakan yang muncul dari masyarakat, sebagai akibat dari kebijakan yang dilaksanakan. Baik positif maupun negatif, sebaiknya pemerintah memperhatikan hal tersebut agar nantinya pelaksanaan dapat sesuai tujuan dan lebih baik lagi untuk kedepannya.
Kasus
Dalam video berjudul “Pemerintah Sosialisasikan New Normal dengan Masif” yang terdapat di media youtube dijelaskan, bahwa pemerintah akan melaksanakan kebijakan new normal dengan dimulai dari penyuluhan masyarakat tentang protokol kesehatan dan menerapkannya. Pemerintah diminta berhati hati. Dimulai dengan presiden Jokowi memeriksa MRT dan Summarecon Mall Bekasi. Pemerintah meninjau bagaimana masyarakat dapat melaksanakan kegiatan seperti biasa dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Intinya juga harus terdapat kedisiplinan warga dalam melaksanakannya, agar siap mencapai tatanan new normal yang ideal. Masyarakat juga diminta melaksanakan protokol kesehatan baru yang telah dikeluarkan oleh kementrian kesehatan yang telah disosialisasikan.
Dalam video yang terdapat di media massa youtube yang berjudul “Misi “New Normal” Jokowi” ini juga dilakukan dengan alasan perekonomian Indonesia yang hanya tumbuh 2,97% pada kuartal I 2020. Kemudian pertumbuhan ekonomi kuartal II diprediksi dapat lebih turun lagi. Hal ini dikarenakan PSBB berlaku penuh sepanjang April dan Mei 2020. Disini, konsumsi rumah tangga berpengaruh besar pada perekonomian Indonesia yang mencapai 58,14%. Konsumsi rumah tangga hanya tumbuh sebesar 2,84%. Sedangkan impor turun hingga -17,57%. Selanjutnya, nilai PDB konsumsi perdagangan dan nilai PDB konsumsi rumah tangga juga mengalami penurunan dari yang sebelumnya kurva menunjukkan terus mengalami peningkatan.
New normal sejatinya merupakan cara hidup baru yang harus diterapkan dengan menerapkan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, menjaga jarak, tidak keluar terlalu lama, dan dikhususkan untuk mendongkrak perekonomian Indonesia yang sempat turun. Namun, masih banyak masyarakat yang salah kaprah dalam mengartikan hal ini, seperti pelonggaran total PSBB, kembali ke kegiatan sebelum pandemi, mengabaikan aspek kesehatan, menganggap corona sudah selesai, dan lain lain. Seperti contoh, jelang penerapan new normal, Indonesia mencetak rekor lonjakan kasus tertinggi dengan 993 kasus dalam sehari pada tanggal 6 Juni 2020.
Teori
Analisis kasus yang tepat adalah menggunakan teori atribusi, dimana dalam teori ini menganalisis secara keseluruhan mengapa orang melakukan suatu hal, dengan melihat hubungan kausalitas (sebab akibat), serta faktor internal dan eksternal seseorang. Teori atribusi yang relevan adalah teori atribusi menurut Kelley. Dalam hal ini, pemerintah dilihat sebagai pemasar, masyarakat dilihat sebagai konsumen. Proses atribusi dalam pembuatan keputusan konsumen adalah sebagai berikut :
STIMULI – ATRIBUTION PROCESS – BELIEF INFORMATION
Stimuli
Dalam stimuli yang dimaksud adalah komunikasi dan pengalaman terhadap produk. Komunikasi yang dilakukan pemasar adalah komunikasi melalui media massa terkait penyebaran informasi kebijakan kepada masyarakat, seperti yang telah dijelaskan dalam kasus di atas. Kemudian pengalaman terhadap produk dapat dilihat sebagai pengalaman masyarakat terhadap kebijakan sebelumnya yang merupakan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Pengalaman yang dapat dikaji diantaranya masalah ekonomi yang muncul, kesehatan mental masyarakat, dan lain lain.
Attribution Process
Keadaan informasi / naif = konsistensi kekhasan dari waktu ke waktu
modalitas, konsensus.
Prinsip kovarians paling dapat diterapkan untuk memahami bagaimana konsumen belajar membuat atribusi, khususnya dalam situasi pemrosesan informasi / atribusi yang lebih luas. Konsumen dengan cepat belajar untuk mengaitkan penyebab dengan peristiwa, dan untuk menggeneralisasi seluruh situasi atribusi yang serupa. Harapan-harapan kausal yang digeneralisasikan ini dan aturan-aturan atribusi yang mengatur prosedur inferensi ditangkap dalam turunan dari model kovarians yang disebut sebagai skema sebab akibat atau konsep "konfigurasi". (Richard, Linda, Jerome, 1979, hal. 127-128)
Proses atribusi membahas faktor internal dan faktor eksternal dalam kasus.
Faktor Internal
1. Persepsi
Proses dimana orang memilih, mengatur, dan menafsirkan sensasi terdiri dari beberapa tahapan. Tahapan pertama adalah paparan. Paparan dalam kasus ini adalah paparan informasi tentang new normal, baik paparan informasi, iklan tentang new normal, opini opini melalui kolom komentar media massa baru, dan lain lain. Paparan yang terjadi dapat berlangsung lama maupun singkat. Tahapan yang kedua adalah perhatian. Terdapat dua konteks perhatian masyarakat disini adalah tertarik atau tidak tertarik. Faktor penyebab hal ini adalah stimulus yang pernah diterima masyarakat sebelumnya dan dapat pula kondisi saat menerima pesan. Masyarakat yang tertarik oleh paparan akan melanjutkan tahapan paparan karena tertarik untuk ingin tahu. Masyarakat yang tidak tertarik oleh paparan akan menghentikan aktivitas paparan baik dengan menutup, mengganti channel, dan sebagainya. Tahapan ketiga adalah interpretasi. Interpretasi merupakan makna yang diproses melalui rangsangan sensorik. Makna yang didapat orang berbeda beda tergantung paparan, sosialisasi, budaya, dan pemikiran. Sebagai contoh masyarakat yang langsung menangkap bahwa new normal adalah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk menangani masalah ekonomi. Terdapat pula interpretasi terhadap kebijakan new normal dimana masih kurang efektif dikarenakan masih tingginya angka kasus virus corona. Mengingat pemerintah menggunakan media massa online ketika menyuluhkan kebijakan, maka dalam penyampaiannya, perlu diperhatikan proses perseptual. Makna yang dimaksud pemerintah harus sejalan dengan makna yang dilaksanakan masyarakat agar tidak terlalu melenceng jauh dari apa yang diharapkan.
2. Pembelajaran
Pembelajaran yang dimaksud disini adalah berasal pengalaman. Pengalaman dapat berupa pengalaman pribadi maupun orang lain. Dalam konteks pribadi, pengalaman terhadap kebijakan bisa dipengaruhi oleh kebijakan terdahulu, kondisi sosial ekonomi yang terdampak, solusi mengatasi (dalam keluarga), serta dalam konteks orang lain adalah belajar dari kasus kasus yang diberitakan. Menggunakan perilaku belajar, dimana pembelajaran terjadi terhadap peristiwa eksternal. Wabah ini merupakan sesuatu yang cepat datang, dan cepat menyebar. Hal ini menyebabkan orang untuk harus cepat beradaptasi dengan situasi serta kondisi fisik, mental, lingkungan, agar tetap dapat bertahan hidup. Setelah melalui perilaku belajar, masyarakat berusaha memecahkan masalah secara aktif dengan kreatif dan membuka wawasan. Hal ini dinamakan belajar kognitif. Dalam perspektif masyarakat , dapat mengganti jenis usaha yang awalnya offline menuju online, atau menambah fitur online dalam usaha, atau juga dapat tetap menyesuaikan situasi dengan menerapkan protokol kesehatan.
3. Memori
Informasi yang telah diproses melalui persepsi dan pembelajaran disimpan menggunakan memori. Memori memiliki beberapa jenis. Pertama adalah memori sensorik. Memori sensorik adalah memori yang berasan dari paparan, yang bertahan hanya beberapa detik. Contohnya adalah paparan informasi mengenai new normal bagi orang yang sedang menerima informasi. Memori sensoriklah yang membuat orang memutuskan apakah ia harus melanjutkan paparan atau tidak. Untuk memori kedua adalah memori jangka pendek. Memori ini mengingatkan orang tentang paparan dalam konteks stimulus panca indera, seperti apa judul informasi, siapa yang menyampaikan pesan, apa inti kebijakan, atau bagaimana bentuk dan latar yang terdapat dalam video. Terakhir adalah ingatan jangka panjang, dimana menyimpan informasi yang telah diterima dalam waktu lama. Hal ini merupakan proses kognisi yang didapat seseorang. Contohnya dalam penyampaian kebijakan, inti inti yang didapat dari memori jangka pendek yang dirasa penting akan diingat dalam waktu yang lama. Dalam hal ini, mengingat pula bahwa manusia juga melakukan proses penyederhanaan informasi. Ada pula yang hanya mengingat judul, subjek yang menyampaikan, atau hanya nama kebijakannya saja.
4. Motivasi
Pemerintah dalam merumuskan kebijakan sudah pasti mempertimbangkan banyak hal. Namun, tidak semua kepentingan publik dalam suatu kasus terakomodasi. Terdapat beberapa hal yang harus diutamakan daripada yang lain. Prioritas dalam kasus adalah memulihkan faktor ekonomi dengan memperhatikan faktor kesehatan. Terdapat motivasi orang untuk tidak setuju dengan kebijakan diantaranya hal tersebut dapat menambah jumlah kasus, mental masyarakat Indonesia belum siap untuk mengadakan new normal, dan lain lain. Motivasi orang untuk setuju dengan kebijakan diantaranya faktor ekonomi masyarakat terdampak serius, sehingga harus cepat mendapatkan pekerjaan. Motivasi membahas pula keterlibatan. Keterlibatan masyarakat sangat tinggi, dimana terdapat banyak sekali komentar dalam video di media massa, banyak tulisan yang mengkaji new normal, dan lain lain.
5. Konsep Diri
Konsep diri merupakan refleksi dari sikap konsumen. Setelah masyarakat memproses memori dan mendapatkan motivasi, selanjutnya akan menentukan sikap terhadap kebijakan. Sikap dapat berupa positif atau setuju dengan kebijakan, dan dapat pula berupa negatif, atau tidak setuju. Konsep diri dalam menentukan keputusan sikap dapat pula dipengaruhi oleh identitas gender, citra diri, dan budaya. Sebagai contoh yang diambil dalam kolom komentar adalah sikap kontra kebijakan yang dikomunikasikan karena masyarakat masih mementingkan alasan kesehatan dan mental rakyat Indonesia yang belum siap menuju new normal.
6. Faktor personal, gaya hidup, dan nilai
Setiap masyarakat memiliki faktor personal atau psikologis internal, gaya hidup, dan menganut nilai nilai yang berbeda. Hal ini digunakan untuk merespons lingkungannya. Citra pemerintah dalam kasus penanganan virus corona dapat berarti berbeda bagi setiap orang. Untuk orang yang pro terhadap kebijakan, mereka cenderung mengarahkan untuk masyarakat menjalankan saja peraturan yang dikeluarkan, menenangkan, dan lain lain. Mereka melihat upaya pemerintah telah cukup baik. Untuk masyarakat yang kontra terhadap kebijakan akan merespons menggunakan permasalahannya, seperti telah di PHK, kesulitan di bidang ekonomi, sulit mendapatkan akses kesehatan, terdampak di bidang pendidikan, dan lainnya. Mereka melihat dan merasa upaya pemerintah kurang mengakomodir banyak kepentingan yang akhirnya membuat mereka harus menyuarakan pendapat.
Faktor eksternal
1. Kelompok
Aspek sosial, manusia membutuhkan individu lain dalam menjalankan kehidupan. Beberapa membentuk kelompok dengan identitas yang sama, yang didalamnya terdapat rasa saling tergantung satu dengan yang lain. Kelompok mempengaruhi keputusan karena nilai kelompok yang dianut, pemikiran kelompok, persetujuan kelompok, referensi dan lain lain. Kelompok dapat menjadi motivasi dalam pengambilan keputusan individu. Contohnya adalah komunitas usaha wisata yang terdampak kebijakan new normal memilih untuk setuju terhadap kebijakan dikarenakan mempertimbangkan masalah pendapatan (ekonomi). Kemudian dalam kelompok terdapat pula kelompok rujukan, dimana kelompok yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi proses pembuatan keputusan. Sebagai contoh dalam kasus yang diperhatikan adalah masyarakat kecil yang terdampak corona bidang ekonomi. Secara tidak langsung, masyarakat dalam kelompok lain baik sosial maupun ekonomi menengah ke atas membantu menyuarakan agar suara masyarakat menengah ke bawah terdengar. Walaupun sebenarnya, masyarakat lain juga terdampak namun tidak begitu signifikan.
2. Komunikasi Word-of-Mouth
Penyebaran kebijakan new normal dapat lebih efektif jika melalui komunikasi mulut ke mulut atau yang biasa dikenal dengan Word-of-Mouth. Sosialisasi kebijakan dapat menyebar dan mempengaruhi persepsi masyarakat apabila pesan kebijakan berasal dari sesorang yang dikenal, dipercaya, dan memiliki kredibilitas. Melalui pendekatan emosi dan afeksi, penyebaran kebijakan new normal menggunakan komunikasi word of mouth dapat dilakukan dalam tingkat rt, rw, desa, dan daerah. Sebagai contoh adalah penyebaran kebijakan lebih diutamakan kepada media massa konvensional dan online, sehingga yang mengetahui dan menginterpretasi kebijakan belum menyeluruh. Dibutukan jaringan komunikasi terpercaya yang menyampaikan pesan kebijakan kepada masyarakat lain yang belum mengetahui.
3. Opinion leadership
Opinion leadership dalam kasus ini adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang produk atau dalam hal ini adalah kebijakan, yang dapat mempengaruhi sikap atau perilaku orang lain. Pemimpin opini juga merupakan sumber informasi yang mana merupakan pemerintah yang mengeluarkan kebijakan. Kemudian, pemimpin opini dalam masyarakat dapat dilihat melalui mereka yang aktif secara sosial, dan memiliki kekuatan referensi. Sebagai contoh adalah orang orang kredibel dan kompeten, ahli, yang berbicara mengenai kebijakan pemerintah new normal ini, yang disampaikan melalui media massa.
4. Media sosial
Penggunaan media sosial dalam penyampaian kebijakan sangatlah penting. Berbagai opini yang dapat langsung disampaikan melalui kolom komantar juga memperlihatkan keterlibatan rakyat dalam mengawasi kebijakan. Media sosial dalam kasus juga digunakan seseorang untuk mencari informasi, meningkatkan keterlibatan, mencari opini opini penting, melihat sudut pandang penerapan kebijakan yang berbeda, hingga akhirnya dapat mempengaruhi pembentukan sikap baik secara cepat atau instan maupun dalam proses atau lambat.
5. Status ekonomi
Ekonomi merupakan alasan utama dikeluarkannya kebijakan new normal. Terbukti bahwa keputusan pemerintah dapat mempengaruhi ekonomi masyarakat. Beberapa opini yang dapat berdasar dari konsumen atau masyarakat berpenghasilan tinggi dapat merupakan opini kontra kebijakan new normal karena melihat aspek kesehatan lebih penting daripada ekonomi. Jenis masyarakat ini dapat beradatasi cepat dengan situasi, keadaan ekonominya tidak terlalu terpengaruh, serta dapat menekan keinginan untuk berada di luar untuk urusan ekonomi. Namun, untuk konsumen atau masyarakat berpenghasilan rendah, ketika dilaksanakan kebijakan PSBB terkait wabah corona, mereka menjadi sangat sulit untuk mencari penghasilan yang kemudian berakibat sulitnya memenuhi kebutuhan sehari hari. Komentar yang terdapat dalam opini masyarakat ini adalah pro kebijakan karena mereka sangat kesulitan mencari materi di tengah pandemi.
6. Status sosial
Status sosial merupakan kelas yang terdapat dalam masyarakat. Kedudukan sosial dalam masyarakat mempunyai peranan yang penting dalam membentuk tingkah laku, cara bersikap seseorang, termasuk dalam pengambilan keputusan dengan kelas yang ada. Umumnya, Orang-orang yang termasuk dalam kelas sosial yang sama memiliki kedudukan sosial yang kurang lebih sama, cenderung memiliki gaya hidup yang serupa, dan bersosialisasi satu sama lain. Status sosial merupakan stratifikasi masyarakat berdasarkan wewenang dan kekuasaan. Kelas sosial terpengaruhi oleh pendidikan, pekerjaan, pendapatan, minat budaya, pendangan, serta lingkungan tempat tinggal. Sebagai contoh, dalam opini opini yang beredar, individu dalam membuat pernyataan tentang kelas sosial mereka, baik langsung disebutkan atau secara tersirat.
7. Budaya
Kebijakan pemerintah yang dibuat juga harus memperhatikan budaya masyarakat. Namun, dinilai budaya tidak terlalu berpengaruh dalam kebijakan maupun masyarakatnya, dikarenakan semuanya saling bahu membahu membantu mengatasi wabah pandemi yang sedang melanda. Baik budaya tinggi maupun rendah semua tetap mengedepankan aspek kesehatan dan aspek ekonomi. Permasalahan juga bukan termasuk permasalahan bidang budaya.
Kausalitas
Hasil dari proses atribusi merupakan hubungan sebab akibat dapat dijelaskan sebagai bentuk lanjutan dari proses internal dan eksternal seseorang yang terjadi. Hal yang dapat dikaji adalah mengapa seseorang mengambil sikap pro terhadap kebijakan yang akan berdampak kepada perilaku hidup bersih dan sehat dan melaksanakan kebijakan, serta mengkaji mengapa seseorang mengambil sikap kontra terhadap kebijakan yang menyebabkan munculnya kasus pengabaian kebijakan, atau melakukan kebijakan dengan cara yang belum benar. Seperti yang dijelaskan di atas, sudah terdapat beberapa konsep kunci dan penting untuk menjekaskan hubungan sebab akibat.
Dalam pandangan faktor internal, seseorang yang mengambil sikap pro terhadap kebijakan akan memiliki persepsi yang tertarik dan memiliki interpretasi terhadap kebijakan yang baik. Kemudian, telah melewati perilaku belajar dan belajar kognitif untuk dapat menyesuaikan situasi, kondisi, dan kebijakan. Memori telah memproses persepsi dan pembelajaran serta informasi yang telah diperoleh agar pelaksanaan sesuai dengan tujuan kebijakan. Motivasi orang untuk setuju dengan kebijakan diantaranya faktor ekonomi masyarakat terdampak serius, sehingga harus cepat mendapatkan pekerjaan. Konsep diri yang diambil adalah sikap pro terhadap kebijakan. Untuk orang yang pro terhadap kebijakan, mereka cenderung mengarahkan untuk masyarakat menjalankan saja peraturan yang dikeluarkan, menenangkan, dan lain lain. Mereka melihat upaya pemerintah telah cukup baik. Dalam pandangan faktor eksternal, kelompok seseorang dan kelompok rujukan dapat mempengaruhi keputusan “pro kebijakan” seseorang. Komunikasi mulut ke mulut dan pendapat dari pemimpin opini juga dapat mempengaruhi. Status sosial dan ekonomi yang rendah juga merupakan motivasi seseorang untuk pro terhadap kebijakan karena mereka terdampak dalam bidang ekonomi.
Dalam pandangan faktor internal pula, untuk yang mengambil sikap kontra terhadap kebijakan, orang tidak tertarik menerima paparan informasi tentang kebijakan, serta memiliki interpretasi kebijakan yang buruk. Pembelajaran yang terjadi dalam hal ini tidak mengakomodir kepentingannya, sehingga ia menyatakan atau merasa kebijakan kurang tepat. Untuk orang yang salah dalam menerapkan kebijakan, mereka kurang menggunakan memori untuk mengingat inti dan tujuan sebenarnya kebijakan diterapkan. Terdapat motivasi orang untuk tidak setuju dengan kebijakan diantaranya hal tersebut dapat menambah jumlah kasus, mental masyarakat Indonesia belum siap untuk mengadakan new normal, dan lain lain. Konsep diri yang diambil adalah sikap kontra terhadap kebijakan. Untuk masyarakat yang kontra terhadap kebijakan akan merespons menggunakan permasalahannya. Dalam pandangan faktor eksternal, kelompok seseorang dan kelompok rujukan dapat mempengaruhi keputusan “kontra kebijakan” seseorang. Komunikasi mulut ke mulut dan pendapat dari pemimpin opini juga dapat mempengaruhi. Status sosial dan ekonomi yang tinggi dapat menyebabkan orang menolak kebijakan karena mereka mementingkan alasan kesehatan dan tidak terlalu terpengaruh signifikan.
BAB 3 PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Menggunakan teori atribusi, dapat menjelaskan mengapa seseorang melakukan hal tersebut, mengapa seseorang tidak melakukan hal tersebut, mengapa orang setuju, mengapa mereka tidak setuju terhadap sesuatu. Melihat hubungan kausalitas dari faktor internal dan eksternal seseorang menjelaskan mengapa orang menerapkan kebijakan dengan cara yang kurang tepat, seperti menganggap corona sudah selesai, kembali ke kehidupan sebelum pandemi. Penggunaan istilah asing new normal juga masih diartikan secara salah, melihat lonjakan angka kasus yang meningkat. Hal inilah yang perlu disadari pemerintah dan masyarakat untuk mengkaji kebijakan dan menerapkan kebijakan secara benar. Memang, teori atribusi hanya berlaku untuk hal kognitif saja, tidak untuk aplikasi aktual suatu kejadian. Namun diharapkan dengan penjelasan diatas dapat memberikan pemahaman bahwa banyak sekali faktor dibelakangnya yang menyebabkan masyarakat mengikuti atau mengabaikan kebijakan dengan sikap pro dan kontranya.
3.2. Saran
Berikut ini adalah beberapa saran yang dapat digunakan untuk penelitian berikutnya :
- Peneliti selanjutnya dapat lebih memperdalam penelitian, lebih terkhusus kepada satu atau beberapa faktor internal atau faktor eksternal
- Peneliti selanjutnya dapat melihat kasus dan konsep dalam teori yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Solomon, Michael R. 2017. Consumer Behaviour : Buying, Having & Being. New Jersey: Pearson-Prentice Hall
Jurnal
Richard, W.M., Linda, L. G., Jerome, B. K. (1979). “The Attribution Process in Consumer Decision Making”. Journal of Consumer Research, 6, 123-140. Diakses dari https://www.jstor.org/stable/3885975
Valerie, S. (1988). “Recent Attribution Research in Consumer Behavior: A Review and New Directions”. Journal of Consumer Research, 14, 548-565. Diakses dari http://www.jstor.com/stable/2489160
Internet
Comments
Post a Comment